Senin, 11 Agustus 2008

3 Sahabat

Embun Taushiyah - 24 Juni 2004 (Sumber : milis)
--------------------------------------------------------------------------------

Tiga sahabat, yang selalu mendampingi kita dalam hidup ini dan sering kita beda-bedakan dalam kenyataan hidup ini.

Sahabat-sahabat yang dimaksud antara lain :

Sahabat Pertama yaitu sahabat yang sangat kita idam-idamkan, sangat kita impikan, sangat kita jaga karena takut kehilangan, sangat kita sayang, sering kita memuji keadaannya yang indah dan cantik. Bahkan karena sahabat yang pertama ini kita sering lupa diri dan melupakan sahabat-sahabat yang lainnya. Pada sahabat pertama ini kita sangat setia. (Siapakah dia ?)

Sahabat Kedua yaitu sahabat tempat kita curhat segala isi hati, sahabat kedua ini sering mendo’akan kita, mendambakan kita, mengharapkan kehadiran kita, sangat menyayangi kita dan sangat setia sampai kapan dan dimana pun, sahabat kedua ini sering rela berkorban untuk kita dengan segala kemampuannya. Kita sangat sayang kepada sahabat kedua ini, akan tetapi kita juga sering melupakannya ketika kita sedang dekat dengan sahabat pertama. (Siapakah dia ?)

Sahabat Ketiga yaitu sahabat yang sebenarnya sangat kita kenal, tetapi kita sering bersikap acuh tak acuh bahkan jelas-jelas sering kita melupakannya dan menjauhinya. Kesetiaan, perhatian dan kedekatan kita pada sahabat ini sangat kurang, padahal seandainya kita tahu sahabat ketiga ini, tanpa diminta pun dia selalu setia akan mendampingi kita kemanapun kita pergi dan bahkan mampu menyelamatkan kita disaat kita mengalami kesusahan/kesesatan. (Siapakah dia ?)

Suatu hari datanglah kerumah kita seorang tamu yang tak diundang menjemput/mengajak kita pergi. Ajakan tamu itu kadang-kadang sering menakutkan kita, padahal ajakannya itu adalah merupakan sebagian dari hak yang harus kita dapatkan dan kita jalani dalam hidup ini.
Karena takut kehilangan dan takut jauh dengan ketiga sahabat di atas, kita mencoba untuk mengajak mereka semua agar mau menemani kita ketika pergi bersama dengan tamu itu. Namun ?

Sahabat Pertama, sahabat yang sangat kita sayang, bahkan sayangnya kita kepada sahabat ini bisa mengalahkan sayangnya kita kepada sahabat-sahabat yang lain (sahabat kedua dan ketiga). Saat kita akan pergi bersama tamu tadi, sahabat ini tidak bisa ikut mengantarkan kita, dia hanya diam membisu. Inikah balasan yang diberikan dari sahabat pertama kepada kita yang sangat menyayanginya ? Sahabat ini tidak bisa kita ajak, tidak bisa kita bawa, tidak bisa menemani kita dan kata terakhir hanya ... selamat jalan ?...

Sahabat Kedua, sahabat ini saat kita ajak untuk ikut dengan tamu itu dia lebih baik dari sahabat yang pertama dan dia bisa mengantarkan kita namun dia tidak bisa seterusnya pergi dengan kita karena sahabat kedua ini masih punya tugas dan kewajiban yang lain dan dia hanya bisa menitikan air mata dan mendo’akan kita ketika pergi dengan tamu itu, semoga kita bahagia disana.

Sahabat Ketiga, sahabat yang pernah kita lupakan dan kita jauhi, tetapi disa’at kita ajak untuk ikut dengan tamu itu dia mau mendampingi kita dengan setia tanpa pamrih. Sebenarnya sahabat ketiga ini tanpa kita minta pun dia sudah siap untuk pergi dengan kita kemanapun. Oh ? setelah tahu, kita sangat menyesalinya kenapa kita menjauhi sahabat ketiga ini ? dan
siapakah dia ini ?

Para pembaca yang budiman inilah nama sebenarnya dari Tamu, dan ketiga sahabat kita.

Tamu adalah Malaikat Izroil (pencabut nyawa)
Sahabat Pertama adalah Harta dunia
Sahabat Kedua adalah Keluarga
Sahabat Ketiga adalah Amal Ibadah

Pandai-pandailah kita bersikap kepada semua sahabat agar mereka selalu bisa bersama kita sampai kapan pun. Sikap kita kepada :

Sahabat Pertama, manfa’atkan di jalan Allah SWT sebagai amal jariyah karena harta dunia yang benar-benar milik kita adalah harta yang sudah kita amalkan di jalan Allah SWT. Biar bergelimang harta di dunia tetapi kurang diamalkan harta itu, apalah artinya ? Ingat kebahagiaan dalam islam adalah kebahagiaan di dunia dan akhirat (ingat do’a sapu jagad).

Sahabat Kedua, ajarkanlah kepada sahabat kedua ini segala kebaikan agar semuanya menjadi keluarga yang sholeh penuh rahmat dan lindungan Allah SWT.

Sahabat Ketiga, banyak-banyaklah amal ibadah selama kita hidup di dunia untuk bekal kelak di akhirat.

Amal ibadah yang pahalanya terus mengalir ke alam kubur :
- Ilmu yang bermanfa’at
- Doa anak sholeh
- Amal Jariyah

Semoga semua ini bisa menjadi renungan untuk meningkatkan amal ibadah kita ... aamiin ...

20 (dua puluh) sifat-sifat ALLOH SWT

Wujud =ada
Qidam =dahulu
Baqo' =kekal selamanya
Mukholafatu lill hawaditsi =ALLOH berdiri sendiri
Wahdaniyat =ALLOH satu
Qudrot =kuasa
Irodah =menghendaki
Kalam =berkata
Ilmu =mengetahui segalanya
Qiyamuhu binafsihi =ALLOH berdiri dengan sendirinya
Hayat =hidup
Sama' =mendengar
Bashor =melihat
Qodiron =maha mengadakan dan maha meniadakan
Muridan =menghendaki dan menentukan
'Aliman =mengetahi segala sesuatu
Hayyan =maha hidup
Sami'an =maha mendengar
Basiron =maha melihat
Mutakaliman =maha berkata-kata

Posted by Zaki
Sumber:
direfresh dari guru agama SD gw dulu...


Walloohu a'lam bissawwaab...

Bandingkan Cinta Anda Dengan Cinta-Nya!


Publikasi 18/04/2002 09:27 WIB

eramuslim –
Cinta adalah memberi, dengan segala daya dan keterbatasannya seorang pecinta akan memberikan apapun yang sekiranya bakal membuat yang dicintainya senang. Bukan balasan cinta yang diharapkan bagi seorang pecinta sejati, meski itu menjadi sesuatu yang melegakannya. Bagi pecinta sejati, senyum dan kebahagiaan yang dicintainya itulah yang menjadi tujuannya.

Cinta adalah menceriakan, seperti bunga-bunga indah di taman yang membawa kenyamanan bagi yang memandangnya. Seperti rerumputan hijau di padang luas yang kehadirannya bagai kesegaran yang menghampar. Seperti taburan pasir di pantai yang menghantarkan kehangatan seiring tiupan angin yang menawarkan kesejukkan. Dan seperti keelokan seluruh alam yang menghadirkan kekaguman terhadapnya.

Cinta adalah berkorban, bagai lilin yang setia menerangi dengan setitik nyalanya meski tubuhnya habis terbakar. Hingga titik terakhirnya, ia pun masih berusaha menerangi manusia dari kegelapan. Bagai sang Mentari, meski terkadang dikeluhkan karena sengatannya, namun senantiasa mengunjungi alam dan segenap makhluk dengan sinarannya.

Cinta adalah kaki-kaki yang melangkah membangun samudera kebaikan. Cinta adalah tangan-tangan yang merajut hamparan permadani kasih sayang. Cinta adalah hati yang selalu berharap dan mewujudkan dunia dan kehidupan yang lebih baik. Cinta selalu berkembang, ia seperti udara yang mengisi ruang kosong. Cinta juga seperti air yang mengalir ke dataran yang lebih rendah.

Tapi ada satu yang bisa kita sepakati bersama tentang cinta. Bahwa cinta, akan membawa sesuatu menjadi lebih baik, membawa kita untuk berbuat lebih sempurna. Mengajarkan pada kita betapa, besar kekuatan yang dihasilkannya. Cinta membuat dunia yang penat dan bising ini terasa indah, paling tidak bisa kita nikmati dengan cinta. Cinta mengajarkan pada kita, bagaimana caranya harus berlaku jujur dan berkorban, berjuang dan menerima, memberi dan mempertahankan.

Tentang Cinta itu sendiri, Rasulullah dalam sabdanya menegaskan bahwa tidak beriman seseorang sebelum Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selain keduanya. Al Ghazali berkata: "Cinta adalah inti keberagamaan. Ia adalah awal dan juga akhir dari perjalanan kita. Kalaupun ada maqam yang harus dilewati seorang sufi sebelum cinta, maqam itu hanyalah pengantar ke arah cinta dan bila ada maqam-maqam sesudah cinta, maqam itu hanyalah akibat dari cinta saja."

Disatu sisi Allah Sang Pencinta sejati menegaskan, jika manusia-manusia tak lagi menginginkan cinta-Nya, kelak akan didatangkan-Nya suatu kaum yang Dia mencintainya dan mereka mencintai-Nya (QS. Al Maidah:54). Maka, berangkat dari rasa saling mencintai yang demikian itu, bandingkanlah cinta yang sudah kita berikan kepada Allah dengan cinta Dia kepada kita dan semua makhluk-Nya.

Wujud cinta-Nya hingga saat ini senantiasa tercurah kepada kita, Dia melayani seluruh keperluan kita seakan-akan Dia tidak mempunyai hamba selain kita, seakan-akan tidak ada lagi hamba yang diurus kecuali kita. Tuhan melayani kita seakan-akan kitalah satu-satunya hamba-Nya. Sementara kita menyembah-Nya seakan-akan ada tuhan selain Dia.

Apakah balasan yang kita berikan sebagai imbalan dari Cinta yang Dia berikan? Kita membantah Allah seakan-akan ada Tuhan lain yang kepada-Nya kita bisa melarikan diri. Sehingga kalau kita "dipecat" menjadi makhluk-Nya, kita bisa pindah kepada Tuhan yang lain.

Tahukah, jika saja Dia memperhitungkan cinta-Nya dengan cinta yang kita berikan untuk kemudian menjadi pertimbangan bagi-Nya akan siapa-siapa yang tetap bersama-Nya di surga kelak, tentu semua kita akan masuk neraka. Jika Dia membalas kita dengan balasan yang setimpal, celakalah kita. Bila Allah membalas amal kita dengan keadilan-Nya, kita semua akan celaka. Jadi, sekali lagi bandingkan cinta kita dengan cinta-Nya. Wallahu a'lam bishshowaab (Bayu Gautama. Thanks to Herry Nurdi akan artikel "Belajar Mencinta"nya)

Hak muslim terhadap muslim lainnya (kiriman Zaki)

Haqqul muslim alal muslim sittun
(hak seorang muslim terhadap muslim lainnya ada 6)
  1. Jika bertemu memberi salam,
  2. Jika diundang; penuhi undangannya,
  3. Jika bersin; ucapkan alhamdulillah dan yang mendengar menjawab yarhamukallooh...; dan dijawab lagi yahdikumullooh.
  4. Jika berjanji tepatilah...
  5. Jika teman sakit, tengok lah
  6. Jika muslim meninggal hantarkanlah...

Sumber: guru agama gw di SD...
Waallohu a'lam bissawaab...

Allah Mengajarkan Cinta. (Kiriman Tia)

Cinta adalah salah satu pesan agung yang Allah sampaikan kepada umat manusia sejak awal penciptaan makhluk-Nya. Dalam salah satu hadis yang diterima dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ''Ketika Allah mencipta makhluk-makhluk-Nya di atas Arsy, Dia menulis satu kalimat dalam kitab-Nya, 'Sesungguhnya cinta kasihku mengalahkan amarahku'.''(HR Muslim). Atau dalam versi yang lain, ''Sesungguhnya cinta kasihku mendahului amarahku.'' (HR Muslim).

Dalam kehidupan manusia, cinta sering direfleksikan dalam bentuk dan tujuannya yang beragam. Ada dua bentuk cinta. Pertama, cinta karena Allah. Kedua, cinta karena manusia. Seseorang yang mencintai orang lain karena Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mengarahkan cinta itu sebagai media efektif untuk saling memperbarui dan saling introspeksi diri, sudah sejauh mana pengabdian kita kepada Allah. Cinta model ini akan berujung pada kepatuhan total dan ketundukan tulus, bahwa apa yang dilakukannya adalah semata-mata karena pembuktian cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Seseorang yang mencintai orang lain karena manusia, akan banyak menimbulkan persoalan serius. Cinta ini sifatnya singkat, karena cinta model ini biasanya muncul karena dorongan material dan hawa nafsu. Dua hal yang sering membuat manusia lalai dalam kenikmatan duniawi.

Rabi'ah al-Adawiyah, seorang tokoh sufi terkemuka, suatu ketika pernah berlari-lari di jalan sambil membawa seember air dan api.
Ketika ditanya oleh seseorang tentang apa yang sedang dilakukannya, Rabi'ah tegas menjawab bahwa ia membawa air untuk menyiram api neraka, dan membawa api untuk membakar surga. Rabi'ah memberikan alasan, bahwa hanya karena niat ibadah untuk memperoleh surga dan terhindar dari api neraka inilah, kebanyakan manusia melupakan tujuan hakiki ibadahnya. Padahal, ibadah bukanlah bertujuan untuk memperoleh surga atau menghindari neraka. Ibadah merupakan bentuk cinta tulus ikhlas kepada Allah semata.

Pergaulan hidup juga mesti dilandasi cinta. Dengan itu, kehidupan akan berjalan harmonis dan langgeng. Cinta yang diajarkan Allah SWT adalah cinta yang berujung pada keabadian, karena Allah sendiri adalah Zat yang abadi dan tak pernah rusak. Maka, keabadian, keharmonisan, dan kesejahteraan umat manusia akan tercapai jika cinta yang ada pada diri manusia ditujukan semata-mata karena Allah.
Allah SWT sendiri yang mengingatkan manusia, bahwa Dia tidak akan pernah mendahulukan amarah-Nya. Cinta Allah yang menyebar di alam semesta inilah yang menjadi bukti bahwa keharmonisan itu benar-benar terjadi.

Seseorang yang tidak melakukan cinta model yang Allah SWT ajarkan tidak akan berhasil mendapatkan cinta Allah. Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah SAW bersabda, ''Siapa yang tidak mencintai manusia, maka ia tidak akan Allah cintai.'' (HR Al-Bukhari). Model cinta yang Allah ajarkan adalah cinta tertinggi, kerena selain berakibat pada kebahagiaan abadi di akhirat, imbasnya bagi kehidupan dunia pun akan terasa. Wallahu a'lam.

Sumber: Republika - Jumat, 1 Oktober 2004